Minggu, 29 Mei 2016 0 komentar

Hujan Pertama

Ku pandangi hujan deras yang tiba-tiba jatuh membasahi tanah tandus sore ini, hujan pertama setelah kurang lebih dua bulan Kota Nenas ini tidak di sentuh sang hujan. Dulu aku pernah dan sampai terpikir, apakah Dia sudah marah kepada umatNya yang sering tidak bersyukur ini? Aah..  pikiran asal yang keluar dari otak ku itu segera aku buang jauh-jauh, karena aku yakin, Dia tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan umatNya, bukankah Dia mempunyai sifat Ar-rohman dan Ar-rohim?

Sesekali angin bertiup sepoi-sepoi membawa titik-titik halus sang hujan bersamanya. Tubuh ku bergetar dingin, ada sedikit sesal dihati kenapa hari ini aku dengan sengaja meninggalkan mantel hujan dan jaket yang biasanya selalu aku bawa dan aku pakai. Ya, aku sangat menyesal sudah berpikir sesuatu mendahului Dia, sungguh aku sangat menyesal telah berpikir kalau Dia tidak akan menurunkan hujan, Aku telah bersuudzon kepada Dia, Ooh Robb!! Ampuni aku! Teriakku hanya terdengar di relung hati.
Sabtu, 28 Mei 2016 0 komentar

Nia Sarah Lira Bandi

Nia duduk termangu di cafe berkonsep alami lesehan. Jus tomat di gelas nya tidak lebih dari satu per empat bagian lagi ketika ia melirik jam tangan berwarna merah muda nya. "Sudah lewat setengah jam, kemana dia?", tanya Nia kepada diri nya sendiri.

Sambil mengaduk-aduk jus di gelas, pandangan Nia menerawang ke langit yang berubah menjadi kelabu di balik jendela besar. Beberapa kali Nia mendesah... menahan rasa dongkol nya untuk menunggu sahabat yang tadi pagi menelepon sambil nangis-nangis. "kenapa juga aku lupa me-charge baterai handphone ku di saat seperti ini?", ujar Nia menyesali keteledorannya


***
0 komentar

Sosok Gadis Aska

Entah ada angin apa, ketika  tidak sengaja aku melintas di depan sebuah Sekolah Dasar perhatian ku tertuju ke seorang gadis kecil berseragam putih merah yang menyandang sebuah ransel hitam di bahu nya. Saat itu keadaan sedang ramai-ramainya, karena memang merupakan waktu bubar sekolah. Banyak orang tua murid yang berbondong-bondong menjemput buah hati nya, dari pejalan kaki, kendaraan beroda dua sampai ke kendaraan beroda empat.

Mungkin, hal ini lah yang membuat ku tertarik pada sosok gadis kecil itu. Dikala teman-temannya bermanja-manja dengan orang tua nya, langkah kecilnya berayun sendiri menyusuri jalan gang di samping sekolah. Tak ada langkah yang gontai, apa lagi lesu yang ku lihat. Gadis kecil itu melangkah dengan riang, sambil sesekali menaikkan tali ransel yang melorot dari bahu nya di kala ia berlari-lari kecil.
0 komentar

Ruang Gelap

“Tidaaaaak!!!!”, aku mencoba memberontak sekuat tenaga ku, tetapi apa yang bisa aku perbuat, aku tetap dimasukkan ke ruangan kecil, gelap dan pengap. Keadaan ku juga cukup menyedihkan, begitu lusuh.

Air mata ku tak sengaja menetes, setitik,,, dua titik,, dan akhirnya mengalir begitu deras merenungi nasib ku. “Sudahlah!! Untuk apa kamu menangis!! Beginilah nasib kita!!”, sebuah suara lantang menghentakkan ku untuk berhenti meratap. Aku baru nyadari kalau aku tidak sendirian di ruang gelap ini.

“Iya, untuk apa kau tangisi, lihatlah kami semua di sini, keadaan kami tak jauh menyedihkan dari mu, bahkan bisa kamu lihat dia, dia tidak hanya lusuh,, pakaiannya penuh robek disana-sini,, dan coba kamu lihat juga dia, dia begitu kumal hingga tak begitu jelas lagi pakaiannya berwarna apa”, ujar suara lantang yang berpakaian abu-abu itu sambil menunjuk ke arah sosok berpakaian hijau dan orange yang duduk berdekatan sambil memandang kearah ku.
 
;